Skip to content

Hikmah Sakit

5 Januari 2012

MEMETIK HIKMAH DIBALIK MUSIBAH SAKIT

Oleh : Ahmad Arifin, S.Ag

( Guru MTs Al Ikhlas Mayung Kec. Gunung Jati Kab.Cirebon)

Bagian I

Musibah Sakit Dapat Mendidik Kepasrahan pada Suratan Takdir

“ Karena kita tidak dapat menyingkap seluruh hikmah Ilahi yang berada dibalik penyakit yang kita derita, mari kita arahkan penglihatan kita kepada oaring-orang yang jauh lebih menderita daripada keadaan kita. “

   Orang-orang bijak mengatakan bahwa salah satu alasan kebanyakan manusia tidak mampu untuk bersabar bersama kenestapaan hidup atau saat dalam sebuah permasalahan adalah  karena mereka tidak dapat melihat hikmah yang tersembunyi dibaliknya. Apalagi ketika kita terhimpit dalam suatu teka-teki kehidupan yang tak terjawab atau pengalaman penyakit yang tak tertahankan, konsep kesabaran atau kepasrahan merupakan obat penawar yang sungguh-sungguh berat untuk kita praktikkan. Sebelum menguraikan hikmah penyakit lebih jauh, saya ingin menyajikan ke hadapan pembaca sebuah kisah penghantar.

            Dikisahkan ada seorang pemuda ingin mempelajari kearifan hidup dan ilmu-ilmu irfaniyah dengan mengunjungi seorang guru sufi.  Satu waktu sebagaimana kebiasaan dalam dunia sufistik, sang guru mengajaknya pergi tanpa menjelaskan kemana tujuannya. Mereka berdua berjalan melintasi daerah-daerah  sunyi, lembah-lembah terjal, perbukitan hutan belantara, dan menelusuri gersangnya gurun pasir dibawah terik matahari yang membakar. Dua hari berlalu tanpa sedikitpun makanan dan minuman.

            Simurid merasakan letih tak terkirakan. Tenggorokannya terasa panas terbakar kehausan dan perutnya terasa seakan meledak dililit kelaparan yang benar-benar menyiksa.

            “ Bisakah kita berhenti sejenak untuk mencari sepotong roti  dan seteguk air ? sungguh aku nyaris tidak sanggup lagi mengangkat kedua kakiku  untuk meneruskan perjalanan.” Pinta simurid kepada sang guru.

            Tiba-tiba muncul seorang lelaki bertubuh tinggi besar dan berpakaian lusuh sambil berjalan tertatih-tatih  menyeret kedua kakinya. Rupanya ia sedang ditimpa penyakit kelumpuhan semu.  Simurid tersentak kaget bercampur perasaan iba yang mendalam, sementara guru dengan paras datar meminta makanan dan minuman seolah-olah tidak terjadi apapun dengan lelaki itu.

            Lelaki tersebut melangkah masuk dan sesaat kemudian ia kembali dengan membawa sepotong roti dan sedikit minuman . sang guru membalas dengan berkata “ anugerah surgawi tercurah kepadamu “

Lelaki tersebut memohon dengan suara yang amat menghibah “ wahai syaikh, sudah hamper sewindu aku merasakan sakit seperti ini . telah kucari pengobatan kesana kemari namun kesembuhan tak kunjung datang. Dan setiap saat lidah ini tak henti mamanjatkan doa kepada Tuhan  namun kasih sayangnya belum tercurah juga. Kumohon kapada Engkau Doakanlah aku agar Dia benkenan menyembuhkan penyakit yang sangat menyiksa ini. “

            Sang guru menjawab “ percayalah ada sebutir mutiara yang sedang diasah dalam dirimu dan sewaktu-waktu percikan cahayanya  akan menyinari sekelilingmu. Semoga rahmat Tuhan selalu bersamamu.”

            Melihat kejadian itu murid merasa perlakuan gurunya tidak adil, sehingga ia berkata. “ Jelas kita belum mambalas kemurahan hati laki-laki ini. Tidak bisakah engkau memberi dirinya selain rahmat Tuhan. “

            Sang guru menjawab datar  “ Rahmat Tuhan itu sudah cukup baginya . Lebih dari itu belum tentu bermanfaat baginya. “

            Melihat sikap guru yang demikian, simurid tidak tahan dan mengajukan alasan-alasan dengan nada lantang, “ Wahai guru, jika akau merasakan kelaparan dan kehausan hanya selama satu dan dua jam saja, mungkin sepotong riti dan seteguk air tadi tidak berarti apa-apa bagiku. Namun kelaparan dan kehausan itu yang aku rasakan selama dua hari dua malam, sehingga tatkala aku melihat roti dan seteguk air itu aku melihat  kehidupan. Dan laki-laki inilah yang memberi kehidupan. Tetapi mengapa engkau tidak membalasnya dengan setimpal.?”

            Baiklah kalau engkau tidak sabar dan mendesak, aku akan medoakan untuk kesembuhannya, tetapi kelak engkau akan memahami semuanya,”

Kemudian guru sufi mengangkat kedua tangannya ia berdoa “ Ya Allah Dzat yang maha menyembuhkan, sembuhkanlah penyakit  hambamu ini yang sedang mengharap obat dari-MU.”

Kemudian mereka berdua pamit , mereka berkelana dari satu desa ke desa lain selama tiga tahun. Suatu hari secara kebetulan mereka berdua  melewati desa yang sama tempat dulu mereka meminta secuil makanan dan minuman saat dalam kelaparan dan dahaga. Tetapi hari ini rumah kumuh itu tidak ada , sebagai gantinya berdiri rumah besar dan megah.

            Terdorong rasa ingin tahu simurid bertanya pada salah seorang  tentang pemilik rumah mewah tersebut. Orang itu menjawab bahwa  rumah itu adalah milik lelaki bertubuh besar yang dulu sering sakit-sakitan. Kini dengan kekuatan tubuhnya , dia menjadi tuan tanah yang kaya raya dan sewenang-wenag sehingga orang-orang disekitarnya  menjadi menderita karena kedzolimannya.  

Mendengar penuturan tersebut si murid kaget sambil berkata “ Kemalangan yang dulu terbalut ketaatan kini berganti kesenangan yang terbungkus kemaksiatan “

            Bukankah dulu pernah aku katakana bahwa rahmat itu lebih baik daripada kesehatan tubuh? Lalu sekarang apa yang akan kau katakana ? Tanya sang guru.

Lalu apa manka mutira dan percikan cahayanya yang tersebar yang dulu pernah kau katakan. Sang guru mengusapkan tangannya ke wajah simurid. Seketika itu juga ia menyaksikan pemandangan seorang lelaki bertubuh besar  sedang bermunajat kepada Tuhannya ditengah m,alam yang sunyi dan pada siang harinya banyak orang yang datang untuk menimba kebijaksanaan hidup. Rupanya penyakit itu  telah mengantarkan lelaki menggenggam lentera kearifan dan membagikannya kepada orang-orang awam.  Sekilas kemudian pemandangan itu hilang . pahamlah sudah tentang isyarat yang diungkapkan oleh gurunya. Namun sesaat itujuga ia terkejut kembali kerena sang guru sudah tidak berada dihadapannya.

            Sangat transparan. Kisah ini menggambarkan betapa beratnya bersabar dalam situasi yang penuh teka-teki, tidak diketahui kepastianya, dan penyakit yang memayahkan yang belum kita ketahui hikmah-hikmah dibaliknya. Pesan moral ini dipotret oleh al Qur’an melalui lisan Nabi Khidir, a.s. saat berkata kepada Nabi Musa, a.s.” Sesungguhnya engkau sekali-kali tidak akan sanggup untuk bersabar bersamaku. Bagaimana engkau dapat bersabar atas sesuatu yang engkau belum mempunyau pengetahuan yang cukup tentang hal itu ? (QS Al Kahfi:67-68).

            Kerena kelemahan kita untuk menyibak tirai hikmah dan membuka misteri kasih sayang Tuhan yang berada dibalik penyakit. Said nursi menasihatkan agar bisa bersabar bahkan mensyukuri kondisi kita. “ apabila tangan terluka lihatlah kepada tangan-tangan yang terputus, apabila kehilangan satu mata lihatlah kepada orang yang kehilangan dua mata, sehingga engkau bisa bersyukur kepada Allah. Demikian nasihat Nursi.

Namun apabila kita lihat lebih luas nasihat yang Nursi tawarkan sebenarnya bukan sekedar menghibur luka kecil kita saat melihat luka besar orang-orang disekeliling kita. Nasihat itu secara lembut sebetulnya mendidik kita supaya melihat kasih sanyang Allah dalam penyakit yang Dia titipkan kepada kita; saat kita menyaksikan orang-orang yang diuji dengan penyakit lumpuh, tuli atau buta bahkan ada yang lebih menderita dari itu; atau saat kita menyaksikan orang-orang fakir-miskin yang hidup dikolong jembatan.

            Saat melihat fakta ini, pertanyaan introspektif yang harus kita gulirkan adalah mengapa Allah memberikan ujian yang sangat mengerikan tersebut kepada orang lain, bukannya kepada kita? Sungguh sangat mudah bagi Dia melemparkan musibah tersebut kepada kita, namun kenapa tidak Dia lakukan? Dari aspek ini bukankan kita  mesti menghaturkan jutaan terima kasih atas kasih sayangnya kepada kita?

Sebaliknya, kasih sayang Tuhan dan puji syukur itu akan hilang berganti keluh kesah saat kita melihat orang yang lebih sehat. Mengenai hal ini ada sebuat kisah yang dinukil dari Said Nursi yang patut kita renungkan. “Adaseorang raja yang menuntun seorang miskin untuk mendaki puncak menara. Pada setiasp tingkat menara sang raja memberinya hadiah, ketika sampai pada puncak menara. Sang raja memberikan hadiah yang sangat istimewa.

            Seharusnya simiskin tadi mengucapkan puji syukur dan terima kasih pada sang raja, tetapi justru ia meremehkan hadiah-hadiah istimewa tersebut. Persoalannya karena ia melihat kepada orang-orang yang berada di puncak yang lebih tinggi. Sehingga ia berkeluh kesah seraya berkata “ seandainya saja menara ini lebih tinggi, tentu aku bisa meraih kedudukan yang lebih istimewa lagi?! Mengapa menara ini tidak setinggi menara yang sebelahsana?           

            Oleh karena kita tidak dapat menyingkap hikmah dibalik penyakit yang kita derita, mari kita arahkan penglihatan kita kepada orang yang lebih jauh menderita daripada keadaan kita, bukan kepada orang yang lebih sehat ketimbang kita. Dengan begitu, diharapaka kita bisa bersabar dan pasrah terhadap goresan pena sang Takdir yang diminkan-Nya. Ikrar kepasrahan yang diajarkan Allah berbunyi “ Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun “ sesungguhnya kita semua adalah milik Allah dan hanya kepada-Nya lah  kita kembali.” (QS Al Baqoroh:156)

 

 

 

 

      

     

 

From → Tak terkategori

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: