Skip to content

makna dzikir dalam kehidupan

17 Februari 2013

Oleh : KH. Athian Ali Moh. Da’i

Dzikir asalnya baik, tetapi bisa menjadi bid’ah disebabkan cara berkumpulnya, pakai hitungan, pakai imam, ada makmum dsb. Dzikir apa yang diucapkan Nabi siang malam, karena ada keterangan, Nabi selalu basah lidahnya dengan dzikir ?

Taryo Engkosmana, Ciamis

Jawaban:

Kita memang harus berhati-hati dalam menghadapi perkara yang berbau bid’ah . Namun kehati-hatian ini juga hendaknya tidak sampai membuat kita menjadi serba takut sehingga tidak berani berbuat apa-apa yang boleh jadi sangat baik dan bermanfaat.

Berdzikir merupakan salah satu kegiatan yang bukan saja baik bahkan wajib hukumnya bila saja pengertiannya tidak dipersempit sebagai pekerjaan lidah semata.

Berdzikir dalam pengertian yang luas adalah selalu mengingat Allah SWT baik ketika berdiri, duduk, maupun ketika berbaring ( Q.S. Ali Imran : 191 ). Dengan pengertian itu, maka hendaknya pada setiap saat selalu menyempatkan diri pada jalan Allah SWT.

Masing-masing anggota tubuh mempunyai tugas berdzikir. Berdzikirnya pikiran, misalnya, yaitu dengan selalu berpikir di jalan yang diridhoi Allah SWT. Berdzikirnya tangan dengan selalu berusaha memegang, menyentuh, memberi, mengambil, atau menandatangani sesuatu yang memang diperintahkan tangan kita melakukannya. Berdzikirnya kaki dengan selalu berusaha agar tidak melangkah ke tempat maksiat. Berdzikirnya mata dengan selalu melihat, memandang yang Alah SWT mengizinkan mata kita melihatnya. Demikian seterusnya. Berdzikirnya lidah dengan mengucapkan dan menyebut “kalimah thayyibah” (kalimat yang baik) seperti membaca Al-Quran , bertasbih, bertahmid, bertakbir, bertahlil, mengajarkan ilmu, berdakwah, berdialog dll.

Berdzikir dalam pengertian yang sempit dengan cara sebagaimana yang Saudara kemukakan yaitu dengan berkumpul, pakai hitungan dan dipimpin oleh seorang imam, memang tidak dicontohkan tapi juga tidak ada isyarat yang memberikan kesan larangan dari Rasulullah Saw. Dzikir akan menjadi bid’ah bila perbuatan seperti yang Saudara contohkan itu dinilainya sebagai syariat atau aturan yang baku.

Namun bila cara itu dimaksudkan untuk mengajar dan mendidik anak-anak dan keluarga dengan dipimpin oleh ayah mereka, atau sebagai upaya dakwah (dalam pengertian sempit) untuk membiasakan umat agar gemar berdzikir, saya kira ia tidak termasuk ke dalam perkara bid’ah yang dimaksud Rasulullah Saw. Wallahu a’lam bish-shawab

Sumber : Keluarga Sakinah, Hikmah,  Minggu I – Juni 1995 / 3 – 9 Muharram 1416 H

From → ARTIKEL

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: